Hai Sahabat... CINTA itu indah...
Tapi banyak orang yang tidak memahami CINTA...
Sebagian memahami CINTA dengan pelampiasan nafsu...
Lalu apa sebenarnya CINTA....?
yang merupakan ANUGERAH TUHAN yang luar biasa...
Untuk mengungkapkan makna CINTA sebagai ANUGERAH TUHAN...
Susah untuk diungkapkan tapi akan memahami...
apabila sudah MERASAKAN...
Tapi buat anda yang belum merasakan KEBESARAN CINTA...
Marilah kita bersama menyimak suatu kisah nyata berikut:
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak mudalagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak SUYATNO 58 tahun kesehariannya diisi dengan MERAWAT istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.
Mereka MENIKAH sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak, disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 KAKINYA LUMPUH dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga SELURUH TUBUHNYA MENJADI LEMAH bahkan terasa tidak bertulang, LIDAHnyapun sudah TIDAK BISA DIGERAKKAN lagi.
Setiap hari pak Suyatno MEMANDIKAN, MEMBERSIHKAN KOTORAN, MENGGANTI BAJU, MENYUAPI,dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi dia selalu melihat istrinya TERSENYUM.
Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya dia pulang memandikan istrinya,mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya HANYA BISA MEMANDANG tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
RUTINITAS ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 TAHUN,dengan SABAR dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkanke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari, keempat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami INGIN SEKALI MERAWAT ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu TIDAK ADA SEDIKITPUN KELUHAN keluar dari bibir Bapak. Bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" .
Dengan AIR MATA berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami MENGIJINKAN bapak MENIKAH lagi, kami rasa Ibupun AKAN MENGIJINKANNYA, kapan bapak menikmati masa tua Bapak, dengan berkorban seperti ini kami SUDAH TIDAK TEGA
melihat bapak, kami janji kami akan MERAWAT ibu BERGANTIAN".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. "Anak2ku jikalau hidup didunia ini HANYA UNTUK NAFSU mungkin bapak akan menikah, tapi ketahuilah.... dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah Melahirkan kalian".. sejenak
kerongkongannya tersekat,”..Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan PENUH CINTA, yang TIDAK satupun DAPAT DIHARGAI dengan apapun.”
”Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini.”
”Kalian menginginkan bapak bahagia..., apakah BATHIN bapak BISA BAHAGIA meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang ?."
”Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain...? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit...?”
Sejenak MELEDAKLAH TANGIS anak-anak pak Suyatno.... merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibunya..dengan PILU ditatapnya mata suami yg SANGAT DICINTAINYA itu..
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara Islami Selepas shubuh, dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita
”Jika manusia didunia ini MENGAGUNGKAN sebuah CINTA, TAPI DIA TIDAK MENCINTAI KARENA ALLAH, MAKA SEMUANYA AKAN LUNTUR.
Saya Memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan HATI dan BATHINnya, BUKAN DENGAN MATA,
dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit BERKORBAN UNTUK SAYA KARENA ALLAH.. dan itu merupakan UJIAN BAGI SAYA... sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit.... setiap malam saya BERSUJUD dan MENANGIS...
dan saya dapat BERCERITA kepada Allah di atas sajadah... dan saya YAKIN hanya kepada Allah saya percaya... untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..
" BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN PADA-NYA".
SUBHAANALLAH....MAHA SUCI ALLAH...
Dunia ini berputar......
Nara bahaya terus mengincar....
Susah senang hanya sebentar....
Tak satupun orang bisa menghindar...
Hanya kepada Allah kita bersandar....
Perbanyaklah beristighfar............
Jannatul Firdaus tuk yang sabar.....
”ITULAH KEBESARAN CINTA...SEBAGAI ANUGERAH YANG KUASA...
BILA CINTA DISANDARKAN KEPADA-NYA”
Wednesday, August 12, 2009
Thursday, August 6, 2009
H U K U M P Y G M A L I O N
Beberapa Trainers & Motivators banyak yg suka bercerita tentang ini, saya dapatkan dari blog semoga bisa kita petik esensinya :
H U K U M P Y G M A L I O N
hukum berpikir positif
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukir tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya yang membuat ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikir positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar- nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik “Kikir betul orang itu”. Tetapi Pygmalion berkata ” Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya. Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makan yang cukup di rumahnya”.
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat sesuatu keadaan dari segi buruk, justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir patung wanita yang sungguh cantik, seperti manusia sungguhan. Namun kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan istrimu”.
Akan tetap Pygmalion memperlakukan patung itu seperti layaknya manusia. Tindakannya ini menyentuh hati para dewa yang ada di Gunung Olympus yang akhirnya memutuskan untuk mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan istrinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk menggambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul positif. Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betu akan gagal.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.
JADI... Sudahkah saya Seorang Pygmalion?... mengapa tak saya coba?... jika sudah tahu manfaatnya..
H U K U M P Y G M A L I O N
hukum berpikir positif
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukir tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya yang membuat ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikir positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar- nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik “Kikir betul orang itu”. Tetapi Pygmalion berkata ” Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya. Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makan yang cukup di rumahnya”.
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat sesuatu keadaan dari segi buruk, justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir patung wanita yang sungguh cantik, seperti manusia sungguhan. Namun kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan istrimu”.
Akan tetap Pygmalion memperlakukan patung itu seperti layaknya manusia. Tindakannya ini menyentuh hati para dewa yang ada di Gunung Olympus yang akhirnya memutuskan untuk mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan istrinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk menggambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul positif. Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betu akan gagal.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.
JADI... Sudahkah saya Seorang Pygmalion?... mengapa tak saya coba?... jika sudah tahu manfaatnya..
Label:
hukum pygmalion
PERENUNGAN
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet.
Tamu itu emang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama.
Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”,ujar Pak Tua.
“Pahit. Pahit sekali,”jawab sang tamu sambil meludah ke samping.
Pak Tua sedikit tersenyum.
Lalu ia mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang.
Pak Tua lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk hingga membuat riak air yang mengusik ketenangan telaga.
“Coba ambil air telaga ini dan minumlah!”
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga,
Pak Tua berkata lagi,”Bagaimana rasanya?”
“Segar,”sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,”jawab si anak muda.
Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, dan bersimpuh di samping telaga.
“Anak muda, dengarlah! Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua bergantung pada HATI kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
LAPANGKANLAH DADAMU menerima semuanya.
LUASKANLAH HATIMU untuk menampung setiap kepahitan itu.
Pak Tua lalu kembali memberikan nasehat,
“Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan
dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang.
Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang datang padanya dengan membawa keresahan jiwa.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet.
Tamu itu emang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama.
Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”,ujar Pak Tua.
“Pahit. Pahit sekali,”jawab sang tamu sambil meludah ke samping.
Pak Tua sedikit tersenyum.
Lalu ia mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang.
Pak Tua lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk hingga membuat riak air yang mengusik ketenangan telaga.
“Coba ambil air telaga ini dan minumlah!”
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga,
Pak Tua berkata lagi,”Bagaimana rasanya?”
“Segar,”sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,”jawab si anak muda.
Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, dan bersimpuh di samping telaga.
“Anak muda, dengarlah! Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua bergantung pada HATI kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
LAPANGKANLAH DADAMU menerima semuanya.
LUASKANLAH HATIMU untuk menampung setiap kepahitan itu.
Pak Tua lalu kembali memberikan nasehat,
“Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan
dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang.
Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang datang padanya dengan membawa keresahan jiwa.
Subscribe to:
Posts (Atom)


